Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2020

Larik Singkat : Gerimis

  Terasa begitu lama. Bergerak bebas menuju cakrawala. Begitu tenang tidak seperti biasanya. Detik bergerak sesuai arahnya, 60 detik jarum hitam panjang melangkah maju. Aku yang menyibukkan diri dengan setumpuk tiang-tiang, rekanku. Dan berharap waktu berjalan begitu cepat, agar bertemu luang. Waktu masih menunjukkan pukul 13.30. Gumamku dalam hati, mengapa lama sekali, ataukah aku begitu cepat mengerjakan tugasku? Aku kembali menyibukkan diri dengan rekanku yang satunya lagi, tiang 65 cm. Dan kejadian ini kembali terulang kepada Lelaki tua yang berjiwa muda, sedarah. "Lo, anak wedokku wes muleh", katanya. Lelaki itu merasa tidak seperti biasanya. Lalu bola matanya melihat jam yang tertempel di dinding. "Tak kiro jam setengah enem" padahal waktu menunjukkan pukul 16.30 Sama halnya aku menunggu kamu datang, meski setangkai bunga tak digengaman namun genggamlah sepucuk kepastian. (numpang lewat wkwkwk) Terima kasih Tuhan, saya masih merasakan moment ini di bumi.

Larik Singkat : Tidak Sendiri

Tidak Sendiri Mengapa demikian? Rasa ini akan engkau rasakan ketika bersama ruang sunyi. Dimana engkau akan bertemu dirimu yang telah lama tidak engkau ajak bicara di masa lalu. Di situ takdir mempertemukan dan engkau yang menentukan, untuk lanjut atau mundur, untuk diam atau berjalan, untuk siap siaga atau ikuti aja. Semua tergantung pada pribadi masing-masing. Aku berterima kasih kepada diriku yang telah terbuka dengan diriku sendiri. Mau memahami, mau mengerti, mau mencintai satu sama lain. Dan proses ini memerlukan bertahun-tahun. Mie instan pun masih ada proses di dalamnya. Ya, jangan merasa sendiri. Orang-orang di sampingmu, mereka hanya singgah. Dan mereka juga berperan penting untuk keberlangsungan hidupmu. Jadi lakukan semestinya engkau ingin diperlakukan ya. Semangat!

Puisi : Coba Lagi

  Coba lagi :) Ketika harapan itu hanya mimpi Segala usaha telah dikerahkan Doa-doa telah kurapalkan Di sepertiga malam ku bertapa Tiada henti, rasa letih Air keluar dari mata Sesaknya dada Menghiasi hari-hariku Sampai aku menyudahi Bersama waktu ku pulih Sebelum ada kata menyerah Aku berusaha lagi Aku bangkit lagi Ku tata diriku Ku yakinkan diriku Mungkin ini jalanku Mungkin ini yang terbaik untukku Mungkin Tuhan ingin mengajariku Tentang rasa ini Coba lagi :)

Untuk : Masa Depan

  Untuk : Masa Depan Halo masa depan, banyak harapan, angan, cita, cerita, cinta yang ingin, akan, dan telah aku rasakan. Untuk diriku di masa sekarang. Aku bersikap keras kepadamu. Untuk menjadi manusia yang memanusiakan manusia, manusia yang bisa menghandel dirinya, pekerjaannya, kasih sayangnya dengan sesama makhluk, dan terutama rasa syukurku kepada Tuhan yang selalu menyertai. Di depan sana, aku tidak akan tau apa masalah yang akan aku hadapi, hanya bisa menerka-nerka. Dan aku berdoa untuk diriku, "Tuhan, engkau telah memberiku banyak sekali kejutan yang mrmbuatku kebanyakan lupa kepadaMu, cukup kuatkanlah aku untuk menghadapi apapun di masa depan nanti, selalu tenangkan hatiku untuk setiap kondisi apapun." Dariku, untuk masa depan :)

Sisihkan waktu untuk dirimu

  Sisihkan waktu untuk dirimu Aku pernah lupa waktu, sampai-sampai moodku benar-benar down banget. Dan serasa ada yang mengganjal dari diriku. Apa itu? Pertanyaan yang belum terpecahkan. Puncaknya, pikiranku ambyar kemana-mana. Pikiranku ke A lalu ke Z mundur lagi ke G. Banyak sekali yang aku pikirkan, sampai stress datang menyelimutiku. Rasa yang berkecambuk, pingin nangis tapi tak mengeluarkan air mata setetes pun, sesak banget. Setelah ku sadari, semua itu adalah proses untuk menyadarkanku bahwa aku butuh waktu untuk sendiri. Diri sendiri juga mau cerita dengan dirinya sendiri. Bisa dituangkan lewat secarik kertas, aplikasi diary, story instagram/whatsApp, atau kata-kata yang pas banget dengan suasana hati kita. Di situ tangis membasahi pipi, ingus keluar terus sampai butuh secarik kain/tisu untuk selalu ada. Menceritakan kejadian-kejadian dari yang menyenangkan sampai memiluhkan. Dan terkadang sampai membuat komitmen untuk diri sendiri. Dengan itu, kita bisa mengenal diri sendi...

PUISI : Sebuah Kepastian

Gambar
  SEBUAH KEPASTIAN Bagaikan bunga Aku adalah bunga diujung jurang Diam menanti, diam berbisik Aku adalah bunga diujung jurang Mendapatkanku perlu pejuangan Aku adalah bunga diujung jurang Indah yang tak sembarangan Aku adalah bunga diujung jurang Tak hanya satu yang berdatangan Aku adalah bunga diujung jurang Aku rela menunggu untuk satu kepastian Aku adalah bunga diujung jurang Petiklah aku, jika kau yakin akan ku