Hikmah Idul Adha

Idul Adha adalah hari raya kedua setelah idul Fitri. Perbedaannya terletak pada momen dari kedua hari raya itu. 

Idul Adha identik dengan qurban kambing/sapi. Membagikan daging qurban kepada warga-warga. Banyak sekali peternakan dari penjuru daerah berbondong-bondong menjual kambing/sapinya untuk mereka yang ingin qurban. Setiap tahun selalu berubah. Dari harga, cara promosi, jumlah ekor kambing / sapi, yang menyumbang hewan qurban di mushola / masjid terdekat. 

Namun idhul Adha memiliki sejarah. Di masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Pasti diantara kalian familiar dengan cerita Nabi Ismail hendak disembelih oleh Ayahnya (Nabi Ibrahim) karena perintah Allah. Kemudian Allah menggantikannya (Nabi Ismail) dengan domba. 

Saya ulas sedikit mengenai cerita Nabi Ibrahim dan Ismail ya
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||

Suatu ketika, Nabi Ibrahim A.S berkunjung ke rumah Siti Hajar dan Ismail A.S. Ketika beliau melakukan kunjungan, di satu malam dia mendapatkan mimpi berupa perintah dari Allah SWT untuk menyembelih Nabi Ismail A.S sebagai kurban. Nabi Ibrahim kemudian terbangun dari tidur itu dengan perasaan gelisah dan sedih. 

Nabi Ibrahim pun menceritakan mimpi itu kepada Ismail. Dengan kesabaran, ketaatan, dan keikhlasan, Ismail menerima perintah tersebut untuk disembelih dan dikurbankan. Begitupula dengan ibunda Ismail, Siti Hajar, yang menerima perintah itu dengan keikhlasan walaupun sangat sedih. 

Pada akhirnya, Nabi Ibrahim membawa Ismail ke sebuah tempat untuk disembelih. Selama perjalanan, banyak sekali godaan iblis yang mengikuti Nabi Ibrahim. Namun, dengan ketakwaan dan keyakinan, mereka berdua melakukan perjalanan hingga tiba di tempat penyembelihan.

Ketika Ismail berbaring dan hendak disembelih, Nabi Ibrahim menutup wajah Ismail. Tepat ketika Nabi Ibrahim hendak menyembelih, datanglah malaikat Jibril untuk mencegah proses itu atas izin Allah SWT. Setelah itu, Jibril mengganti Ismail dengan seekor kambing, kemudian memerintahkan Nabi ibrahim untuk menyembelih kambing tersebut sebagai ganti Ismail. Nabi Ibrahim pun diperintahkan untuk membagikan daging hasil kurban itu kepada fakir miskin. 

||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||

Mari kita mencari dan melihat hikmah apa yang bisa kita petik di kehidupan saat ini. 

1. Usaha kita untuk mendapatkan harta dengan cara menabung, menyisihkan uang, mengumpulkan sedikit demi sedikit untuk tujuan tertentu. Tidak mudah untuk mendapatkan harta karena butuh proses yang panjang dari waktu, tenaga, dan pemikiran. Namun Allah berfirman : “Bahwa dalam setiap harta terdapat hak orang lain (orang yang meminta-minta dan orang yang tidak meminta-minta).” (QS. Adz-Dzaariyat : 19). 

Apa yang kita miliki (harta) itu bukan sepenuhnya milik kita melainkan miliki orang lain juga. Meski mencari harta itu tidak mudah, namun alangkah baiknya jika kita melihat sesama ciptaan-Nya bahagia bersama-sama dengan membagikan sebagian dari harta yang telah kita perjuangkan. 

2. Kita tahu menjalankan perintah Allah itu tidak mudah. Mungkin sebagian dari kita setengah-setengah dalam mengerjakan perintah Allah, seperti sholat, puasa ramadhan, berbuat baik. Sifat manusia yang ingin mendapatkan sesuatu yang enak-enak. Namun menjalankan perintah Allah jika terpaksa itu bukanlah sesuatu yang mengenakan. 

Jika kita refleksikan dengan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Bagaimana seorang Nabi Ibrahim mengikhlaskan anaknya hendak di sembelih dengan kedua tangannya sendiri? Jika itu adalah kita, pasti tidak mudah bagi kita mengikhlaskan anak kesayangan kita di sembelih begitu saja.

 إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.

Artinya: “Sesungguhnya kami itu milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Allah SWT.” (Al-Baqarah Ayat 155-156) 

Sesungguhnya apa yang telah kita dapatkan, sejatinya itu bukanlah milik kita abadi melainkan itu milik Allah. Dari sini kita diajari latihan untuk mengikhlaskan apa yang telah kita dapatkan, kita usahakan semata-mata untuk Allah. Dengan cara seperti apa? Dengan cara-cara yang Allah sukai. 

3. Kebanyakan dari kita seolah-olah mengerti apa yang menjadi keinginan Allah. Memprediksi masa depan. Merancang skenario untuk menuju masa depan yang lebih baik lagi. Hal-hal itu perlu kita terapkan di kehidupan kita. Namun, hal-hal diluar kita seperti apa yang akan terjadi di masa depan, hal-hal diluar kendali kita, kita hanya bisa menerimanya dan mengendalikan diri. Apa yang terjadi kedepannya kita pasrahkan kepada Allah. Karena kita tidak tahu kedepannya bagaimana. Bisa jadi seperti Nabi Ibrahim, jika memang itu perintah yaudah jalani saja. Untuk ke depannya kita tidak tahu. Karena kita juga tidak tahu skenario Allah.
Berikan yang terbaik untuk hidup kita, sesungguhnya Allah yang maha mengetahui dan maka bijaksana. 

Hikmah selanjutnya bisa Anda temukan sendiri dengan kejernihan pikiran dan hati yang bersih. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kita Telah Melewati Batas

Tercapainya Cita-Cita

Keruwetan Manusia